Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel, Farizal Tingglkan Anak & Istri

Jakarta – Senjamedia, Suasana duka menyelimuti kediaman prajurit TNI Praka Farizal Rhomadhon di RT 17, Dusun Ledok, Desa Siderejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah istimewah Yogyakarta. Atas tragedi tragis yang terjadi saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon, senin (30/3/2026).

Praka Farizal merupakan bagian dari Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2025, yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik. Farizal berasal dari Batalyon infanteri 113 Jaya Sakti, satuan yang bermarkas di Kabupaten Bireuen di bawah Kodam Iskandar Muda.

Farizal merupakan bagian dari Satgas Yommek TNI Konga XXIII-S yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia diketahui bertugas di bawah naungan Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ia gugur pada Minggu, 29 Maret 2026 pukul 20.44 waktu setempat, atau senin dini hari WIB, setelah terkena serangan artileri yang diduga dilancarkan oleh Israel Defense Forces (IDF) di wilayah Adshit al-Qusayr.

Pihak United Nations melalui juru bicara UNIFIL, Candice Ardiel, mengonfirmasi adanya ledakan proyektil di dekat posisi pasukan penjaga perdamaian. ”Sebuah proyektil meledak di posisi PBB dan melukai sejumlah personel,” ujarnya, tanpa merinci kondisi korban.

Wilayah Lebanon Selatan memang dikenal sebagai kawasan rawan konflik, terutama di sepanjang perbatasan dengan Israel. Ketegangan dan baku tembak dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir, sehingga memperbesar risiko bagi pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di sana.

Hingga saat ini, pihak Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Sementara itu, investigasi lebih lanjut masih terus dilakukan untuk mengungkap kronologi pasti kejadian.

Praka Farizal Rhomadhon merupakan seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti, di bawah naungan Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda.

Dalam perjalanan karier militernya, ia terakhir menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima, posisi jabatan operasional untuk menjaga disiplin dan tata tertib di lingkungan Kompi Markas satuan Yonif.

Lahir di Kulon Progo, Daerah istimewah Yogyakarta, pada 3 Januari 1998, Praka Farizal tumbuh menjadi sosok prajurit muda yang berdedikasi. Ia tercatat pernah menerima tanda kehormatan berupa Satyalancana Dharma Nusa ( SL Dharma Nusa ) serta satyalancana Kesetiaan VIII tahun.

Farizal tercatat pernah menerima tanda kehormatan berupa Satyalancana Dharma Nusa (SL Dharma Nusa) serta Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Bintang jasa itu sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas, disiplin, dan pengabdian tanpa cacat dalam menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.

Semangat pengabdian itu membawanya mendapat kepercayaan menjalankan misi internasional sebagai penjaga perdamaian dunia.

Permintaan Keluarga agar jenazah Praka Farizal dimakamkan di Kulon Progo, Jenazah farizal akan dibawa pulang ke daerah asalnya di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewah Yogyakarta. Pihak keluarga berharap jenazah Farizal bisa dimakamkan di daerah asalnya.

Diketahui jika Praka Farizal berasal dari Pendukuhan Ledok, Siderejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo. Rumah orangtua Farizal juga berlokasi di wilayah tersebut.

” Insya Allah (Jenazah Farizal) akan dibawa kemari (Kulon Progo) karena dari permintaan keluarga, jenazah akan dimakamkan disini,” kata Komandan Kodim 0731/Kulon Progo Letnan Kolonel (inf) Dyan Niti Sukma saat berkunjung ke rumah orang tua Farizal, Senin (30/3/2026).

Dyan menyatakan, sampai saat ini, pihaknya masih terus berkomunikasi dengan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI terkait pemulangan jenazah Farizal. Dia menambahkan, jenazah Farizal diharapkan bisa sampai di Tanah Air pada Rabu (1/4/2026).

”Saat ini masih dalam tahap menunggu. Insya Allah mudah-mudahan lusa sudah sampai Tanah Air. Namun, kami tetap monitor terkait dengan pemulangan jenazah almarhum,” tuturnya.

Sementara itu, ayah Farizal, Senam(60) mengaku belum lama berkomunikasi dengan anaknya. Namun, komunikasi melalui telepon seluler itu tidak berlangsung lancar karena terkendala masalah sinyal. ”Tidak meyampaikan apa-apa karena sinyal jelek,” ujar Senen.

Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Fafa Nur Azila yang berusia 25 tahun. Ia juga meninggalkan seorang anak perempuan bernama Shanaya Almahyra Elshanu yang masih berusia dua tahun.

Leave a Reply